Sleman, metroraya.id – Industri media kini tengah berada dalam fase euforia menggunakan AI untuk menghasilkan konten dengan lebih cepat. Di sisi lain, kemunculan AI juga telah mengguncang pola konsumsi berita publik, dimana pembaca lebih sering mendapatkan informasi melalui ringkasan mesin, bukan lagi mengunjungi portal berita secara langsung.
Dua hal tersebut diungkapkan oleh dua orang narasumber, pengawas media dan pelaku media, Rosarita Niken Widiastuti dari Dewan Pers dan Agung DH, Wakil Pemimpin Redaksi Tirto.id dalam sebuah Forum Diskusi dengan judul Literasi Media: AI dan Masa Depan Jurnalisme di Auditorium RRI Pro 2 Yogyakarta, Jl. Afandi, Mrican, Sleman. pada Sabtu, 22/11/25.
Agung DH mengungkapkan bahwa situasi pembaca lebih memilih AI untuk mendapatkan informasi, membuat trafik media mengalami penurunan hingga sekitar 30 persen. Tantangan ini membuat media harus cermat beradaptasi tanpa mengorbankan nilai utama jurnalistik.
Bagi Agung, persoalan terbesar hari ini bukan lagi sekadar kecepatan atau banyaknya konten yang diproduksi media. “Jurnalis hendaknya tidak terjebak pada kuantitas produksi konten tapi pada kualitas konten,” ujar Agung. Dilansir dari laman jogjareport.id
Ia menilai redaksi harus tetap percaya diri, karena pekerjaan inti jurnalis verifikasi lapangan, analisis mendalam, dan wawancara manusia tak akan bisa digantikan sepenuhnya oleh mesin. AI hanyalah alat bantu yang perlu dipahami serta dikendalikan dengan baik.
Selanjutnya, Rosarita Niken Widiastuti menyampaikan bahwa seorang jurnalis tetap harus memiliki keterampilan menulis yang kuat. Menurutnya, ada nilai rasa yang hanya muncul dari kemampuan manusia menyusun cerita, dan itu tidak dimiliki AI. Meski saat ini industri media tengah dimudahkan dengan keberadaan AI, namun ia mengingatkan, euforia itu telah menunjukkan tanda kejenuhan.
Justru jurnalisme ke depan harus lebih kreatif, otentik dan update. Seperti itulah yang akan semakin dicari. “Diperlukan kreativitas dari pengelola media. Jadi makin banyak peluang yang sekiranya menarik bagi pembaca,” kata Niken. Media yang mampu menghadirkan gagasan segar, cara penyajian berbeda, dan kedalaman informasi akan tetap memiliki masa depan yang cerah.
Kedua narasumber sepakat bahwa AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan tantangan untuk memperkuat kualitas dan integritas pers. Dengan fokus pada jurnalisme yang relevan, manusiawi, dan bermakna, media Indonesia dapat terus berperan penting di tengah derasnya transformasi digital. * Pewarta: Rochmad | Editor: Retnowati.
