Bantul, metroraya.id – Pada pertengahan tahun 1960an, kawasan Kuwaru moncer akan produksi garam. Sebagian besar warganya memanfaatkan air laut untuk dijadikan garam. Namun seiring perkembangan waktu, mereka beralih untuk membudidayakan udang.
Adalah Purnama (47), salah satu warga pesisir Kuwaru yang juga berkutat pada tambak udang hingga tahun 2013. Usai belajar dari salah satu kolega, Ia kemudian memutuskan untuk menekuni ladang garam.
“Saya belajar dari teman saya, asal Surabaya. Saya tertarik untuk mencoba karena menurut saya ini potensial,” ujarnya. Minggu, 16/11/25.
Jika dahulu pembuatan garam di pesisir Kuwaru menggunakan metode Sirat, maka Purnama memilih menggunakan metode yang berbeda.
“Simbah saya cerita, dulu di Kuwaru ini banyak yang bikin garam sendiri. Kalau dulu, dengan cara sirat,” imbuh Purnama.
Sirat yang dimaksud Purnama adalah metode tradisional untuk menghasilkan garam. Metode ini memanfaatkan evaporasi atau penguapan air laut melalui sinar matahari di lahan atau kolam dangkal. Mula-mula, air laut dialirkan, dijemur sampai menguap, lantas garam kristal yang tersisa siap dipanen.
Sedangkan Purnama memilih membangun enam tunnel atau lorong untuk memproduksi garam, tidak jauh dari lokasi wisata Tanggul Tirto yang masih jadi bagian dari Pantai Kuwaru, Poncosari, Srandakan, Bantul. Tunnel-tunnel ini berjajar rapi, dirangkai menggunakan bambu dan diselimuti plastik UV.
Ia menyedot air laut. Kemudian menampungnya pada bak penampungan hingga menunggu air sampai tua. Air tua adalah istilah untuk air yang telah memiliki kadar garam tinggi. Secara berkala, Purnama mengeceknya dengan salinometer, alat untuk mengecek kadar garam untuk memastikan apakah air tersebut siap dipindahkan ke dalam tunnel.
“Kalau kadar garamnya sudah tinggi, air dari bak penampungan dipindahkan ke tunnel. Awalnya di tunnel pertama dulu. Setelah dua minggu, dipindah ke tunnel ke dua. Ditunggu lagi sampai dua minggu untuk dipindah ke tunnel tiga sampai tunnel ke empat. Di tunnel lima dan enam, di sinilah pengkristalan terjadi,” beber Purnama. Dilansir dari kabarjawa.com.
Keseluruhan proses produksi garam ini memakan waktu setidaknya dua bulan. Akan lebih cepat jika cuaca kering. Dalam satu bulan, saat ini Purnama bisa menghasilkan 200 kilo gram garam. Rata-rata per kilogram dijual seharga Rp1.500 – Rp.3000.
“Dipanen tiga kali. Panen pertama, kualitas paling bagus. Warnanya paling putih. Ini bisa dikonsumsi. Panen kedua dan ketiga, digunakan untuk pertanian dan peternakan,” jelasnya.
Saat ini, mayoritas pembeli dari pasar lokal. Untuk luar kota, Purnama menyebut pernah ada pesanan dari Kebumen. Sebagai upaya memperluas pasar, Purnama berencana merambah lapak online.
“Saya juga mau jualan online. Sekarang kan jualan juga bisa serba digital,” ungkap Purnama.
Ke depan, Purnama berharap produksi garam yang ia mulai semakin berkembang dan lebih luas diterima pasar.
*Linangkung | Rochmad | Editor: Retnowati.
