Sleman, metroraya.id – Data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan pertumbuhan tabungan di DIY mengalami perlambatan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Padahal, di sisi lain, simpanan dalam bentuk giro dan deposito justru tumbuh pesat.

Dalam Media Briefing bersama Jurnalis Joglosemar di Sasanti Resto, Sleman, Sabtu,15/11/25, Ketua Dewan LPS Anggito Abimanyu mengungkapkan bahwa perlambatan tabungan yang umumnya dimiliki perorangan patut jadi perhatian. “Ini mencerminkan perubahan perilaku masyarakat. Bisa jadi, mereka mulai menahan atau mengalihkan dana ke instrumen lain,” katanya.

Berdasarkan data per Oktober 2025, pertumbuhan tabungan hanya 0,48% year-on-year (YoY), jauh melambat dibandingkan periode yang sama tiga tahun lalu yang mencapai 34,22%. Sementara itu, giro tumbuh 4,95% dan deposito 6,14% angka yang jauh lebih sehat dibanding 2022 lalu yang masing-masing hanya 3,94% dan 5,22%.

Meski demikian, Anggito menegaskan bahwa secara keseluruhan, aktivitas perbankan di DIY masih ekspansif. “Pertumbuhan DPK (Dana Pihak Ketiga) masih stabil, dan komposisi produknya relatif tidak berubah drastis,” ujarnya. Total DPK perbankan umum di DIY kini mencapai Rp87,43 triliun, dengan porsi terbesar masih berasal dari nasabah perorangan (71,09%).

Yang menarik, simpanan masyarakat DIY masih didominasi oleh tier kecil, yaitu di bawah Rp100 juta. Meski porsinya sedikit turun dari 28,60% pada 2022 menjadi 26,70% pada 2025, jumlah ini tetap menjadi yang terbesar dibanding tier lainnya.

Di sisi penyaluran kredit, laju pertumbuhan memang melambat. Total kredit di DIY tumbuh hanya 6,14% YoY, turun dari 15,94% pada 2022. Namun, kredit modal kerja masih mencatat pertumbuhan double digit menjadi andalan utama perbankan setempat. Sektor rumah tangga juga masih menjadi penerima kredit terbesar, meski porsinya sedikit turun dari 31,6% menjadi 30,6%.

Yang perlu dicatat: kredit ke pelaku UMKM justru menurun. Pada 2022, porsi kredit UMKM mencapai 43,99%, namun pada Oktober 2025 turun menjadi 36,13%. “Ini bisa jadi sinyal bahwa akses pembiayaan bagi UMKM perlu lebih didorong,” kata Anggito.

Saat ini, bank umum di DIY masih mencatat surplus likuiditas lebih dari Rp31,6 triliun, dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) sebesar 64,7%. Artinya, masih banyak dana menganggur yang bisa disalurkan untuk mendukung perekonomian lokal.

“Potensi masih besar. Kuncinya adalah menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan,” tutup Anggito. * Rls | Sulis Ds | Rochmad.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *