Sleman, metroraya.id – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menjadi tuan rumah Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) 2025 yang berlangsung pada 12–17 November 2025 di Kampus Karangmalang. Sebanyak 34 tim dari 24 perguruan tinggi se-Indonesia hadir untuk menunjukkan inovasi terbaik dalam perakitan jembatan dan bangunan gedung skala mini.

Ketua Panitia KJI/KBGI 2025, Arwan Nur Ramadhan, menjelaskan bahwa kompetisi tahun ini menjadi momentum penting setelah kewenangan penyelenggaraan kembali berada di bawah Filmawan dari Kementerian PUPR. “Kami sebagai tuan rumah memfasilitasi seluruh mahasiswa dari 24 perguruan tinggi. Ada 34 tim yang bertanding mulai 12 sampai 17 November, dengan final dan penutupan pada 16 November,” ujarnya.

Selama satu pekan, peserta mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari perakitan, presentasi teknis, hingga pengujian struktur. Seluruh tahapan uji dilakukan di GOR UNY yang telah disiapkan sebagai arena utama kompetisi.

Uji Getar dan Uji Beban

Arwan menjelaskan bahwa KJI dan KBGI tahun ini memiliki kategori yang lebih beragam. Untuk KJI, kategori jembatan mencakup jembatan pelengkung dan jembatan rangka. Setiap tim diminta merakit dua miniatur jembatan, masing-masing berukuran 3 meter dan 5 meter. Struktur tersebut kemudian diuji melalui penambahan beban secara bertahap.

“Pengujiannya nanti memakai beban 10 kilogram dulu, lalu 20 kilogram, 30 kilogram, dan seterusnya. Kita lihat apakah jembatannya rontok atau bertahan. Itu menentukan juara,” kata Arwan.

Sementara untuk KBGI, peserta ditantang merakit miniatur gedung 10 lantai dengan dua kategori penilaian: struktur dan non-struktur. Pengujian dilakukan dengan metode shaking table untuk menilai ketahanan gedung terhadap getaran.

“Setiap tim diuji dengan shaking table. Satu kali pengujian ada delapan tim. Bila konstruksi tidak roboh, itu yang berpeluang menjadi juara,” tambahnya.

Seluruh bahan pada kompetisi tahun ini menggunakan rangka besi, namun dirakit dalam ukuran kecil sesuai standar kompetisi. Tujuannya agar mahasiswa memahami prinsip dasar rekayasa struktur sebelum diterapkan di skala sebenarnya.

Peserta KJI-KBGI 20205 Saat Merakit Rangka Besi Dalam Ukuran Kecil Sesuai Standar Kompetisi. Gor UNY, Jumat. 14/11/25. Foto: Humas UNY.

Arwan menilai kompetisi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berinovasi dalam merancang infrastruktur yang relevan dengan kondisi Indonesia. “Untuk bangunan gedung, mereka berinovasi bagaimana membuat struktur yang tahan gempa. Untuk jembatan, bagaimana menghubungkan pulau-pulau di Indonesia dengan konstruksi yang kuat dan tahan lama,” katanya.

Ia menambahkan bahwa hasil kompetisi tidak hanya berhenti sebagai karya kampus. Inovasi yang muncul dapat menjadi referensi pembangunan infrastruktur nasional. “Hasil karya mahasiswa ini bisa diadaptasi, karena kita banyak membangun infrastruktur. Arah orientasinya nanti bisa diarahkan lebih jauh,” ujarnya.

Selain kompetisi, panitia juga menyiapkan expo karya yang dapat dikunjungi publik pada Sabtu dan Minggu. Di expo tersebut, seluruh hasil perakitan dipamerkan agar dapat dilihat langsung oleh mahasiswa, akademisi, maupun masyarakat umum.

“Semua bisa melihat mana yang bagus, mana yang menjadi juara. Ini penting untuk edukasi bersama,” kata Arwan.

Kompetisi KJI dan KBGI 2025 di UNY resmi ditutup pada 16 November, sementara pengujian terakhir dan expo berlangsung hingga 17 November. Tahun ini, panitia menyediakan lima kategori penghargaan untuk bangunan gedung dan sejumlah penghargaan hingga juara harapan untuk kategori jembatan. * Rls | Rochmad

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *