Yogyakarta, metroraya.id – Penetapan KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo yang bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2025, disambut baik oleh seluruh rakyat Indonesia. Hal ini dipandang sebagai bentuk penghargaan yang layak dan patut disyukuri bersama.

Dekan FISIPOL UGM, Wawan Mas’udi, Ph.D., menyebutkan alasan di balik penerimaan gelar Pahlawan Nasional KH. Abdurahman Wahid yang begitu universal.

“Bagi almarhum K.H. Abdurrahman Wahid, gelar kepahlawanan ini memang benar-benar tanpa kontroversi. Semua orang, bukan hanya dari kalangan umat Islam, bukan hanya dari warga Nahdliyin, tapi saya kira seluruh elemen bangsa dari Sabang sampai Merauke sedang menunggu-nunggu inagurasi ini,” terang Wawan Mas’udi, saat menghadiri tasyakuran penganugerahan gelar pahlawan Nasional untuk KH. Abdurrahman Wahid, yang diselengarakan di Kantor PKB DIY, Jl. Majapahit, Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta. Rabu malam, 12/11/25.

Ia menambahkan bahwa gelar kepahlawan Gus Dur bukan hanya bersifat formalitas tapi benar-benar secara subtansial ada di dalam pikiran, benak dan ingatan memori seluruh rakyat Indonesia.

Di kesempatan yang sama, Dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Romo Martinus Joko Lelono menyampaikan pandangan dari prespektif Katholik, yang mengibaratkan Gus Dur sebagai “Mercusuar Keumatan”.

“Saya kagum dengan Gus Dur yang memperjuangkan Islam Substantif-Inklusif yang terwujud dalam budaya hidup bersama. Indonesia bukan negara Islam tetapi nilai-nilai Islami menyatu dalam hidup bersama. Dalam banyak hal nilai-nilai itu tidak bertentangan bahkan sejalan dengan nilai-nilai keagamaan saya. Pilihan untuk tidak menghidupkan Islam yang Legal-Eksklusif merupakan pilihan besar. Dengan tidak memilihnya, orang Islam dalam sistem hidup bersama tidak menerima perlakuan istimewa dalam hidup bersama. Dengan cara seperti itulah kita menghidupi negara Pancasila. Perjuangan Gus Dur inilah yang kiranya harus terus dilanjutkan. Itulah sebabnya, beliau amat layak menjadi pahlawan di negeri ini,” jelas Romo Joko Lelono.

Menurutnya, Gus Dur adalah manusia yang sudah purna. Agama itu bukan yang penting untuk ditampilkan, yang lebih penting dari agama adalah kemanusiaan dan bunga-bunga persaudaraan.

Romo Joko, sapaan akrabnya, juga menyampaikan bahwa saat ini banyak orang karena sudah berada dalam kekuasaan lalu tidak pergi kepada idealisme tetapi lebih pergi kepada kemana uang. “Mungkin mereka terpenjara oleh hal-hal tertentu yang salah satunya adalah kekuasaan. Seandainya Gus Dur masih bisa ditanya, Gus Dur akan lebih bahagia disandingkan dengan Romo Mangun Wijaya, sahabat karibnya,” ungkap Romo Joko. *Pewarta: Rochmad | Editor: Retnowati.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *