Bantul, metroraya.id – Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) tahun 2025 digelar di kabupaten Gunungkidul dengan mengangkat tema “Adoh Ratu, Cedhak Watu  yang secara harfiah berarti jauh dari raja, dekat dengan batu. Tema ini menggambarkan etos masyarakat Gunungkidul yang hidup mandiri jauh dari pusat kekuasaan, namun tetap berakar kuat pada alam, tanah, dan batuan karst yang menjadi bagian dari keseharian mereka.

Sejak pertama kali digelar pada 1989, FKY telah bertransformasi dari festival kesenian menjadi ruang laboratorium budaya yang mempertemukan seniman,

pemikir, dan masyarakat dalam dialog kreatif. Tahun ini, FKY memasuki babak ketiga dari peta jalan lima tahunan dengan fokus pada “adat istiadat”, melanjutkan tema pangan di Kulon Progo (2023) dan benda di Bantul (2024).

Dian Lakshmi Pratiwi, SS. M.A., Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, menyampaikan bahwa FKY kini tengah menjalani proses rebranding sebagai forum kebudayaan yang merayakan semua objek kebudayaan dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat. “Tahun ini adalah tahun ketiga dari rebranding. Ini sesuai dengan roadmap yang setiap tahunnya berpindah dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya,” ujarnya. Sabtu, 4/10/25.

Gunungkidul dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah ini menyimpan kekayaan adat istiadat yang tumbuh organik bersama sejarah dan lanskap alamnya. Tema Adoh Ratu, Cedhak Watu menegaskan bahwa jarak dengan kekuasaan bukanlah keterasingan, melainkan bentuk kesadaran menjaga kedaulatan komunitas. Sementara kedekatan dengan batu menandai keterhubungan manusia dengan bumi, menjadi sumber nilai solidaritas dan keseimbangan hidup.

Dr. Koes Yuliadi, M.Hum., perwakilan Steering Committee FKY 2025, menilai bahwa tema ini adalah reaktualisasi nilai-nilai adat Gunungkidul yang menegaskan relasi manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan.

“Tema ini menjadi konsep yang luar biasa ketika ingin menguatkan identitas masyarakat. Di Gunungkidul tema ini tertuang dalam hubungan manusia dengan manusia, alam, dan Tuhan, sebagai contoh dengan adanya hubungan manusia dengan ternak yang terwujud dalam adat istiadat,” ucapnya.

Festival yang akan berlangsung 11–18 Oktober 2025 di Lapangan Desa Logandeng, Gunungkidul, menghadirkan beragam program yang menggambarkan kehidupan yang berpijak pada alam dan tradisi. Mulai dari Pawai Rajakaya dan Ritual Gumbrengan, Jelajah Budaya, Pameran Olah Rupa, hingga Pasaraya Ruwang Berdaya dan Pawon Hajat Khasiat yang menampilkan pangan dan karya lokal khas Gunungkidul.

Menurut B. M. Anggana, Ketua FKY 2025, penyelenggaraan tahun ini menandai 35 tahun perjalanan FKY. Tema Adoh Ratu, Cedhak Watu tidak hanya menjadi refleksi budaya, tetapi juga pernyataan sosial-politik yang relevan dengan zaman.

“Kami bersama tim riset FKY telah memperdalam tema ini sejak Mei 2025. Tema ini menjadi semangat di masyarakat—sebuah statement yang kuat dalam konteks sosial politik hari ini mengenai kemandirian dan solidaritas yang utuh, sehingga menjadi representasi kedaulatan rakyat,” ungkapnya.

Melalui kolaborasi antara panitia, seniman, dan warga lokal, FKY 2025 menghadirkan festival yang tumbuh dari tanah Gunungkidul sendiri—tempat di mana jarak dari kekuasaan justru membuka ruang bagi kreativitas, solidaritas, dan kebijaksanaan ekologis. Gunungkidul bukan sekadar tuan rumah, melainkan pusat kesadaran budaya baru yang menegaskan: meski jauh dari ratu, masyarakat tetap dekat dengan batu, dekat dengan alam, dan dekat dengan kehidupan itu sendiri. 

Adoh Ratu, Cedhak Watu mengandung kedalaman historis, politis, dan kultural yang mengartikulasikan jarak dengan pusat kekuasaan sekaligus menegaskan kedekatan dengan tanah, sejarah, kosmologi, dan lingkungan ekologis sebagai basis keberlangsungan hidup Adoh Ratu, Cedhak Watu hendak memaknai adat istiadat sebagai daya hidup dan daur hidup masyarakat, la lahir dari rahim tanah, air dan angin yang dihirup bersama, menjadi sistem hidup yang terus menyesuaikan din, melawan lupa, dan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. FKY 2025. Adoh Ratu, Cedhak Watu lebih dari merayakat adat, tetapi untuk memfasilitasi ruang pertemuan dan pertukaran bagi ragam subjek, ragam konteks dan nilai Berlangsung pada tanggal 11-18 Oktober 2025 di Lapangan Desa Logandeng. Gunungkidul, DIY hadir dengan berbagai program utama dan pendukung. diantaranya: 

  1. Pawai Pembukaan FKY 2025 (11 Oktober 2025)

Proses Pembukaan FKY 2025 ditandai dengan Pawal Rajakaya yang akan dilaksanakan di Lapangan Desa Logandeng. Gunungkidul. Pawai Rajakaya berangkat dan upacara adat Gumbrengan di Gunungkidul, sebuah laku syukur dan doa warga tani peternak kepada Sang Pencipta atas kesehatan dan keselamatan ternak sebagai penopang kehidupan dan memperkuat hubungan ekologis antara manusia, hewan. dan lingkungan. Pawai ini akan diikuti oleh hewan ternak, dengan sapi sebagai ikon utama 4 Kabupaten dan 1 Kota, berhias ubo rampe dan kupat gantung. Dalam Pawai Rajakaya, hadir juga berturut-turut pasukan bregada sebagai identitas khas Yogyakarta, barisan pembawa ubo rampe Gumbrengan, serta Pasukan Panji Desa yang membawa bendera panji yang berasal dari Kompetisi Panji Desa. Prosesi selanjutnya adalah doa dan ritual Gumbrengan, serta upacara simbolis pembukaan FKY 2025

  1. Kompetisi FKY-Panji Desa, Ternak Sehat, Jurnalisme Warga

Kompetisi adalah program yang diadakan oleh FKY 2025 sebagai ruang laboratorium, eksperimentasi dan kolaborasi karya-karya inovatif Kompetisi terdiri atas beberapa kegiatan berbeda dan terbuka untuk umum, yaitu Panji Desa, Ternak Sehat, dan Jurnalisme Warga.

  1. Jelajah Budaya-Telusur Tutur, Lokakarya, dan Sandiswara

Jelajah Budaya dalam FKY 2025 merupakan payung besar yang berperan sebagai jembatan percakapan yang memperkaya pengetahuan masyarakat tentang adat istiadat yang mungkin belum sepenuhnya dipahami. Dengan menghadirkan pengetahuan baru dan perspektif yang segar, program ini tidak hanya menghormati dan melestarikan pengetahuan adat istiadat, tetapi juga memfasilitasi pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana adat istiadat berperan dalam membangun dan mempertahankan peradaban serta nilai-nilai yang ada dalam masyarakat saat ini. Program ini berupaya menghadirkan pengalaman artistik dan korporeal yang mengeksplorasi bagaimana materialitas menjadi arsip hidup, mencatat sejarah, identitas, dan perjuangan kelompok di masyarakat. Melalui pembacaan atas adat istiadat tersebut, kolektivitas terus terpelihara, menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Jelajah Budaya sendiri akan hadir melalui 3 sub program yakni, LOKAKARYA, TELUSUR TUTUR & SANDISWARA

  1. Pameran FKY: Gelaran Olah Rupa

Program pameran di FKY25 menghadirkan seni visual dengan spirit “bertamu/bertamu-perjumpaan yang di dalamnya menghadirkan ruang dialog, berbagi kisah, dan merawat hubungan sosial. Pameran ini menjadi praktik bertamu sebagai pendekatan kuratorial, melibatkan komunitas tempatan di Gunungkidul dengan seniman di luar zona tempatan sebagai upaya membangun jembatan lintas budaya lingkungan dan generasi. Seniman hadir sebagai sahabat yang singgah untuk mendengar, belajar, dan merawat narasi bersama warga dengan mengikuti program “Residensi Pekan sowan” selama 7 hari sebelum festival digelar dan berdiam di lokus-lokus tertentu ruang ekologis, sosial, maupun kultural untuk mengalami, mendengarkan, dan menajamkan ulang kisah, fenomena, serta sejarah yang melekat di sana.

  1. Panggung FKY

Panggung FKY merupakan program panggung hiburan yang berisikan berbagai macam jenis pertunjukkan yang didapat dari panggilan terbuka, penunjukkan komunitas tertentu, delegasi empat Kabupaten dan satu Kota, dan delegasi dan Provinsi luar DIY, FKY 2025 dengan tajuk Adoh Ratu Cedhak Ratu, mengajak para pelaku seni untuk unjuk diri melalui wadah panggung FKY sebagai wujud keikutsertaan dalam meramaikan FKY tahun ini. Panggung FKY hadir di venue/lokasi utama FKY 2025 bersanding dengan Pasaraya, Pawon, dan Pameran FKY

  1. FKY Bugar

FKY Bugar adalah program olahraga bersama yang mengajak masyarakat melestarikan budaya hidup sehat Berkolaborasi dengan PERWOSI (Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia) Kabupaten Gunungkidul, kegiatan ini menghadirkan instruktur senam kreasi khas Kabupaten Gunungkidul, mulai dari Senam Kreasi Gunungkidul (SKG Sen 1), Senam Kreasi Bumiku Handayani, Senam Kreasi Penthul Tembem, hingga Zumba, yang diselingi hiburan electone dan doorprize menarik. Mengusung tema Adat istiadat, peserta FKY Bugar diajak mengenakan pakaian olahraga dengan sentuhan aksesoris tradisional khas Gunungkidul.

  1. Pasaraya Adat “Ruwang Berdaya”

Pasaraya Ruwang Berdaya dirancang bukan sekadar ruang jual-beli produk lokal, tetapi sebagai ruang ekspresi budaya yang segar, artistik, dan kontekstual. Di sini. pengunjung tidak hanya berbelanja, tapi juga mengalami perjumpaan budaya-pertukaran nilai, cerita, dan rasa antar-sesama warga. Setiap ruang dan produk dikurasi layaknya instalasi seni, mempertemukan fungsi dan estetika, sebagai “etalase budaya hidup Disinilah seni dan ekonomi lokal saling menguatkan, menghadirkan lansekap yang tidak hanya menampilkan tetapi juga memberdayakan. Pasaraya “Ruwang Berdaya” diikuti oleh 18 Kapanewon di Gunungkidul, masing-masing diwakili oleh komunitas-komunitas lokal yang merancang galeri mereka layaknya rumah untuk menyambut pengunjung, dengan kurasi mencakup: rasa tradisi, karya tangan warga, layanan interaktif, dan warisan budaya.

  1. Pawon Hajat Khasiat

Pawon Hajat Khasiat adalah dapur FKY 2025, hadir sebagai ruang eksperimental pangan yang berangkat dari adat istiadat dan kekayaan bahan lokal Gunungkidul Program ini mengajak komunitas lokal mulai dari karang taruna, kelompok ibu-ibu, petani, hingga penggerak pangan desa, untuk meracik menu baru berbasis bahan alam Gunungkidul dengan tema survival food & solidaritas

  1. FKY Rembug: Wicara, Siniar, dan Wedangan

Program ini adalah ruang diskusi pengetahuan adat istiadat yang mempertemukan akademisi, aktivis, budayawan, tokoh adat, pelaku spiritual, hingga seniman untuk membaca ulang adat istiadat Gunungkidul sebagai pengetahuan yang relevan di masa kini. FKY Rembug terbagi dalam dua format, yaitu Wicara dengan diskusi panel tematik, serta Siniar yang menghadirkan percakapan ringan dalam format podcast Sedangkan Wedangan Gunungkidul adalah musyawarah yang menyarikan refleksi kolektif atas praktik kultural FKY 2025 yang dibacakan pada penutupan festival sebagai komitmen bersama terhadap keberlanjutan kebudayaan. *Pewarta: Saifa Anis | Editor: Retnowati

 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *