Sleman, metroraya.id – Sidang Senat Terbuka Pengenalan Kehidupan Bela Negara bagi 6.000 mahasiswa baru UPN Veteran Yogyakarta berlangsung hangat di Auditorium komplek kampus Jl. Padjajaran, Ring Road Utara No 104, Condongcatur, Depok, Sleman. Senin,11/8/25.

Acara ini menghadirkan Staf Khusus Kementerian Pertahanan RI, Letkol TNI Tituler Deodatus Andreas Dedy Cahyadi Sundjoyo atau yang akrab dikenal sebagai Dedy Corbuzier.

Dalam paparannya, Dedy Corbuzier mengingatkan bahwa ancaman terhadap bangsa kini tidak lagi sebatas bom atau senjata. Menurutnya, serangan yang lebih berbahaya datang melalui hoaks, adu domba, framing opini, dan pembodohan massal. “Salah satunya lewat tayangan sinetron azab di televisi swasta yang menanamkan logika tidak sehat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peran media sosial yang sarat informasi palsu dan konten instastory “galau”, diiringi adu domba di TikTok, Facebook, dan platform lain yang bukan milik Indonesia. “Kita dicuci otak lewat filter AI, tanpa sadar membuat mental kita lemah. Karena itu, bela logika jadi modal penting untuk bela negara,” tegasnya

Dedy menilai propaganda dan proxy war kini memanfaatkan media sosial sebagai alat. Padahal, keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa justru terancam menjadi pemecah belah. “Belanda dulu menjajah lewat divide et impera. Jangan sampai kita dipecah belah oleh bangsa sendiri. Generasi muda jangan terjebak opini salah. Pertahankan kedaulatan dengan dedikasi, motivasi, dan potensi yang dimiliki,” katanya.

Senada dikatakan oleh Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI G. Eko Sunarto, S.Pd., M.Si., mengingatkan bahwa konsep bela negara lahir dari sejarah panjang perjuangan. “Indonesia ada karena pendahulu kita memiliki hati nurani bela negara di dada. Semangat ini harus ditularkan kepada sesama,” ujarnya.

Eko menyebut ancaman radikalisme, penyalahgunaan narkoba, dan kejahatan siber kini nyata di hadapan kita. “Garis antara perang dan damai semakin tipis. Kualitas SDM menjadi penentu, dan bela negara harus tertanam kuat di hati dan sanubari,” jelasnya. Ia berharap mahasiswa dapat menjadi teladan dalam mengaktualisasikan semangat bela negara di tengah masyarakat.

Sementara itu, Rektor UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. M. Irhas Effendi, menegaskan bahwa kampusnya menjadi satu-satunya perguruan tinggi negeri yang menempatkan bela negara sebagai bagian inti dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Kami punya peta jalan bela negara dan indikator sikap serta perilaku civitas akademika berbasis bela negara. Ini satu-satunya di Indonesia,” pungkasnya. * Rls/ Rochmad

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *