Sleman, metroraya.id – Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta UAJY, Desideria Cempaka Wijaya Murti, S.Sos., M.A., Ph.D. mencetak prestasi membanggakan dengan terpilih sebagai penerima Australia Awards Short Course Program dengan tema Strengthening the Higher Education System. Program beasiswa ini diselenggarakan oleh DFAT (Departement of Foreign Affairs and Trade) dengan host Australia National University, Canberra.
Australia Awards memilih 25 delegasi dari seluruh daerah yang telah diseleksi oleh tim juri yang terdiri dari akademisi dan perwakilan DFAT Australia. Program ini ditujukan bagi para pengelola universitas dan pemangku kebijakan di sektor pendidikan tinggi Indonesia. Pelaksanaan program dibagi menjadi tiga tahap, yakni Pre dan Post training di Indonesia dan dua minggu pelatihan intensif di Australia.
Dr. Desideria mengikuti program ini pada bulan April, dan hasil seleksi diumumkan pada bulan Juni oleh ANU. Keikutsertaannya mendapat dukungan penuh dari Dr. Victoria Sundari Handoko, S.Sos., M.Si., Dekan FISIP dengan tujuan untuk dapat mengembangkan program-program yang ada di FISIP UAJY, khususnya untuk membantu programnya sebagai Wakil Dekan I FISIP UAJY.
Pada prosesnya, Dr. Desideria mengungkapkan bahwa tantangan utamanya adalah menyampaikan kepada dewan juri dan mengaplikasikan pengetahuan dari beasiswa yang diperoleh untuk kemajuan UAJY.
“Tantangan utama adalah menuliskan dan menyampaikan kepada juri, pertama bahwa saya pantas untuk mendapatkan hibah ini dan yang kedua bahwa saya perlu mendapatkan hibah ini, juga pengetahuan apa yang dapat saya aplikasikan dari beasiswa yang diperoleh untuk UAJY,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kepedulian terhadap isu inklusivitas dalam pendidikan tinggi. Menurutnya, perhatian terhadap kelompok minoritas dan penyandang kebutuhan khusus menjadi salah satu poin penting yang ia pelajari dari sistem pendidikan tinggi di Australia, yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianut oleh UAJY.
Dr. Desideria berharap, melalui program ini Sivitas Akademika UAJY dapat terus mengikuti arah perkembangan dunia pendidikan dan berani mengeksplorasi area baru, termasuk pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
“Sebagai Sivitas Akademika memahami arah perkembangan dunia dan berani mengeksplorasi area-area baru yang masih membutuhkan eksperimen dan pembelajaran dari kesalahan. Dalam konteks akademik, seperti di Australia, kita harus terus belajar tentang penggunaan AI di dunia pendidikan, memahami batasannya, dan membuat kebijakan yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Dengan cara ini, kita bisa tetap berada di garis depan perkembangan pendidikan tinggi dan tidak tertinggal,” ungkap Dr. Desideria. Rls./Rochmad.
